Minggu, 28 Oktober 2012
TAURAN PELAJAR BIKIN RESAH MASA DEPAN NEGARA (BI-01-SS-12)
Perkelahian, atau yang sering
disebut tawuran, sering terjadi di
antara pelajar. Bahkan bukan
“hanya” antar pelajar SMU, tapi
juga sudah melanda sampai ke
kampus-kampus. Ada yang
mengatakan bahwa berkelahi
adalah hal yang wajar pada remaja.
Di kota-kota besar seperti Jakarta,
Surabaya, dan Medan, tawuran ini
sering terjadi. Data di Jakarta
misalnya (Bimmas Polri Metro
Jaya), tahun 1992 tercatat 157
kasus perkelahian pelajar. Tahun
1994 meningkat menjadi 183 kasus
dengan menewaskan 10 pelajar,
tahun 1995 terdapat 194 kasus
dengan korban meninggal 13
pelajar dan 2 anggota masyarakat
lain. Tahun 1998 ada 230 kasus
yang menewaskan 15 pelajar serta
2 anggota Polri, dan tahun
berikutnya korban meningkat
dengan 37 korban tewas. Terlihat
dari tahun ke tahun jumlah
perkelahian dan korban cenderung
meningkat. Bahkan sering tercatat
dalam satu hari terdapat sampai
tiga perkelahian di tiga tempat
sekaligus.
DAMPAK PERKELAHIAN PELAJAR
Jelas bahwa perkelahian pelajar ini
merugikan banyak pihak. Paling
tidak ada empat kategori dampak
negatif dari perkelahian pelajar.
Pertama, pelajar (dan keluarganya)
yang terlibat perkelahian sendiri
jelas mengalami dampak negatif
pertama bila mengalami cedera
atau bahkan tewas. Kedua, rusaknya
fasilitas umum seperti bus, halte
dan fasilitas lainnya, serta fasilitas
pribadi seperti kaca toko dan
kendaraan. Ketiga, terganggunya
proses belajar di sekolah. Terakhir,
mungkin adalah yang paling
dikhawatirkan para pendidik,
adalah berkurangnya penghargaan
siswa terhadap toleransi,
perdamaian dan nilai-nilai hidup
orang lain. Para pelajar itu belajar
bahwa kekerasan adalah cara yang
paling efektif untuk memecahkan
masalah mereka, dan karenanya
memilih untuk melakukan apa saja
agar tujuannya tercapai. Akibat
yang terakhir ini jelas memiliki
konsekuensi jangka panjang
terhadap kelangsungan hidup
bermasyarakat di Indonesia.
PANDANGAN UMUM TERHADAP
PENYEBAB PERKELAHIAN PELAJAR
Sering dituduhkan, pelajar yang
berkelahi berasal dari sekolah
kejuruan, berasal dari keluarga
dengan ekonomi yang lemah. Data
di Jakarta tidak mendukung hal ini.
Dari 275 sekolah yang sering
terlibat perkelahian, 77 di
antaranya adalah sekolah
menengah umum. Begitu juga dari
tingkat ekonominya, yang
menunjukkan ada sebagian pelajar
yang sering berkelahi berasal dari
keluarga mampu secara ekonomi.
Tuduhan lain juga sering
dialamatkan ke sekolah yang dirasa
kurang memberikan pendidikan
agama dan moral yang baik. Begitu
juga pada keluarga yang dikatakan
kurang harmonis dan sering tidak
berada di rumah.
Padahal penyebab perkelahian
pelajar tidaklah sesederhana itu.
Terutama di kota besar, masalahnya
sedemikian kompleks, meliputi
faktor sosiologis, budaya,
psikologis, juga kebijakan
pendidikan dalam arti luas
(kurikulum yang padat misalnya),
serta kebijakan publik lainnya
seperti angkutan umum dan tata
kota.
Secara psikologis, perkelahian yang
melibatkan pelajar usia remaja
digolongkan sebagai salah satu
bentuk kenakalan remaja (juvenile
deliquency). Kenakalan remaja,
dalam hal perkelahian, dapat
digolongkan ke dalam 2 jenis
delikuensi yaitu situasional dan
sistematik. Pada delikuensi
situasional, perkelahian terjadi
karena adanya situasi yang
“mengharuskan” mereka untuk
berkelahi. Keharusan itu biasanya
muncul akibat adanya kebutuhan
untuk memecahkan masalah secara
cepat. Sedangkan pada delikuensi
sistematik, para remaja yang
terlibat perkelahian itu berada di
dalam suatu organisasi tertentu
atau geng. Di sini ada aturan,
norma dan kebiasaan tertentu yang
harus diikuti angotanya, termasuk
berkelahi. Sebagai anggota, mereka
bangga kalau dapat melakukan apa
yang diharapkan oleh kelompoknya.
TINJAUAN PSIKOLOGI PENYEBAB
REMAJA TERLIBAT PERKELAHIAN
PELAJAR
Dalam pandangan psikologi, setiap
perilaku merupakan interaksi
antara kecenderungan di dalam diri
individu (sering disebut
kepribadian, walau tidak selalu
tepat) dan kondisi eksternal. Begitu
pula dalam hal perkelahian pelajar.
Bila dijabarkan, terdapat sedikitnya
4 faktor psikologis mengapa
seorang remaja terlibat perkelahian
pelajar.
1. Faktor internal. Remaja yang
terlibat perkelahian biasanya
kurang mampu melakukan adaptasi
pada situasi lingkungan yang
kompleks. Kompleks di sini berarti
adanya keanekaragaman
pandangan, budaya, tingkat
ekonomi, dan semua rangsang dari
lingkungan yang makin lama makin
beragam dan banyak. Situasi ini
biasanya menimbulkan tekanan
pada setiap orang. Tapi pada
remaja yang terlibat perkelahian,
mereka kurang mampu untuk
mengatasi, apalagi memanfaatkan
situasi itu untuk pengembangan
dirinya. Mereka biasanya mudah
putus asa, cepat melarikan diri dari
masalah, menyalahkan orang /
pihak lain pada setiap masalahnya,
dan memilih menggunakan cara
tersingkat untuk memecahkan
masalah. Pada remaja yang sering
berkelahi, ditemukan bahwa mereka
mengalami konflik batin, mudah
frustrasi, memiliki emosi yang
labil, tidak peka terhadap perasaan
orang lain, dan memiliki perasaan
rendah diri yang kuat. Mereka
biasanya sangat membutuhkan
pengakuan.
2. Faktor keluarga. Rumah tangga
yang dipenuhi kekerasan (entah
antar orang tua atau pada anaknya)
jelas berdampak pada anak. Anak,
ketika meningkat remaja, belajar
bahwa kekerasan adalah bagian
dari dirinya, sehingga adalah hal
yang wajar kalau ia melakukan
kekerasan pula. Sebaliknya, orang
tua yang terlalu melindungi
anaknya, ketika remaja akan
tumbuh sebagai individu yang tidak
mandiri dan tidak berani
mengembangkan identitasnya yang
unik. Begitu bergabung dengan
teman-temannya, ia akan
menyerahkan dirnya secara total
terhadap kelompoknya sebagai
bagian dari identitas yang
dibangunnya.
3. Faktor sekolah. Sekolah
pertama-tama bukan dipandang
sebagai lembaga yang harus
mendidik siswanya menjadi sesuatu.
Tetapi sekolah terlebih dahulu
harus dinilai dari kualitas
pengajarannya. Karena itu,
lingkungan sekolah yang tidak
merangsang siswanya untuk belajar
(misalnya suasana kelas yang
monoton, peraturan yang tidak
relevan dengan pengajaran, tidak
adanya fasilitas praktikum, dsb.)
akan menyebabkan siswa lebih
senang melakukan kegiatan di luar
sekolah bersama teman-temannya.
Baru setelah itu masalah
pendidikan, di mana guru jelas
memainkan peranan paling penting.
Sayangnya guru lebih berperan
sebagai penghukum dan pelaksana
aturan, serta sebagai tokoh otoriter
yang sebenarnya juga menggunakan
cara kekerasan (walau dalam
bentuk berbeda) dalam “mendidik”
siswanya.
4. Faktor lingkungan. Lingkungan
di antara rumah dan sekolah yang
sehari-hari remaja alami, juga
membawa dampak terhadap
munculnya perkelahian. Misalnya
lingkungan rumah yang sempit dan
kumuh, dan anggota lingkungan
yang berperilaku buruk (misalnya
narkoba). Begitu pula sarana
transportasi umum yang sering
menomor-sekiankan pelajar. Juga
lingkungan kota (bisa negara) yang
penuh kekerasan. Semuanya itu
dapat merangsang remaja untuk
belajar sesuatu dari lingkungannya,
dan kemudian reaksi emosional
yang berkembang mendukung
untuk munculnya perilaku
berkelahi.
SUMBER :
http://kpai.go.id/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar